logo

Wakil Rakyat Micro Site

Selasa, 20 November 2018 | Edisi : Indonesia
Opini

Penghancuran Rohingya, Bukti Terjadinya Proxy War

Senin, 04 Sep 2017 - 10:05:53 WIB
Sahlan Ake, TEROPONGSENAYAN
39bobbyrizaldi3.jpg
Sumber foto : ist
Anggota Komisi I DPR RI Bobby Adhityo Rizaldi
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Anggota Komisi I DPR RI Bobby Adhityo Rizaldi mengatakan, persoalan di Myanmar adalah bukti nyata perang proxy , dimana genosida etnis menjadi alasan untuk sebuah penguasaan wilayah.
 
Menurutnya, proxy war adalah kekuatan besar yang memainkan perannya secara tidak langsung melalui pihak ketiga.
 
"Persoalan di Myanmar, adalah bukti nyata, perang proxy, dimana genosida etnis menjadi alasan untuk sebuah penguasaan wilayah," kata Bobby di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (4/9/2017).
 
Dari sisi hubungan diplomatik pemerintah Indonesia dan Myanmar, politikus Partai Golkar ini menyarankan agar Pemerintah Indonesia menarik Duta Besar RI di Myanmar.
 
Hal ini sebagai sikap tegas dan protes atas berlangsungnya kekerasan mematikan terhadap etnis Rohingya di Myanmar.
 
"Persona non grata kan Dubes Myamnar dan tarik balik Dubes RI di Myanmar," tegasnya.
 
Menurutnya, penarikan duta besar dan pemutusan hubungan diplomatik adalah suatu sikap keras, yang membuat Myanmar paling tidak menghentikan aksi kekerasan dengan kekuatan militernya.
 
"Aksi diplomatik lainya dengan merekomendasikan Myanmar keluar dari ASEAN bila kekerasan Rohingya tidak dihentikan dan bersedia mediasi dengan pengawasan pihak independen," katanya. 
 
Bobby juga mengapresiasi respon cepat Kementerian Luar Negeri Retno Marsudi yang berdiskusi dengan banyak pihak untuk membantu para warga Rohingya. Termasuk Mantan Sekjen PBB Kofi Annan, Sekjen PBB Antonio Guterres, Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hassan MA, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Penasehat Keamanan Nasional Myanmar dari Aung San Suu Kyi, U Thaung Tun.
 
"Tetapi agar koordinasi komunikasi itu tidak mubazir, perlu dilanjutkan dengan gestur diplomatik. Bila diam saja, akan ada kesan kurang berwibawa, sebagai negara muslim terbesar di ASEAN, menyikapi hal ini dengan 'terlalu' manis," tandasnya. (plt)