logo

Wakil Rakyat Micro Site

Kamis, 20 September 2018 | Edisi : Indonesia
Batu Bara Meroket

DPR: PLN Jangan Sembarangan Naikkan TDL

Kamis, 08 Peb 2018 - 11:50:56 WIB
Syamsul Bachtiar, TEROPONGSENAYAN
7enimaulanisaragih.jpg
Sumber foto : ist
Anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih


JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih meminta PLN tidak menaikkan tarif dasar listrik (TDL) secara sembarangan menyusul meroketnya harga batu bara. Saat ini, 60% pembangkit PLN menggunakan batu bara.

Melonjaknya harga batu bara hingga US$100/metrik ton membuat biaya operasional PLN membengkak. PLN kalang kabut karena harus menanggung beban berat. Apalagi mayoritas 60% pembangkit PLN menggunakan batu bara.

"PLN bisa saja menaikkan TDL, melalui tarif adjusment, khususnya pelanggan non subsidi. Tapi sebisa mungkin janganlah naikkan Tarif Dasar Listrik (TDL)," kata anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih kepada wartawan di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Kalaupun harus naik, kata anggota Fraksi Partai Golkar ini, besaran kenaikan tidak bisa sembarangan.

"Tentu kenaikan juga harus wajar dong, jangan sembarangan. Toh, PLN kan punya formula atau hitungan dalam menentukan besaran tarif. Masalahnya, kalau kenaikannya terlalu tinggi, bukan saja memberatkan, tapi juga menimbulkan inflasi. Nah, ini yang perlu dijaga," ujarnya.

Yang penting, Eni mewanti-wanti bagi pelanggan subsidi (450 VA-900 VA) jangan sampai naik.Sebab, jumlah pelanggan ini masih mencapai puluhan juta.

"Mereka ini masyarakat golongan menengah ke bawah. Jangan lagi dibebankan macam-macam," tandasnya.

Hanya saja, lanjut Eni, pihaknya memahami kendala yang dialami PLN.Apalagi Presiden Jokowi meminta agar dalam setahun ini PLN tidak menaikkan tarif.

"Nah, pemerintah mau membuat skema DMO (domestik market obligation) terhadap batu bara, sekitar US$61/metrik ton. Saya tidak tahu, apakah pengusaha batubara setuju dengan harga itu," ujarnya.

Legislator dari Dapil Jatim X ini menyarankan agar pemerintah dan PLN duduk bersama guna mencari titik temu.

"Win-win solutionnya, DMO jangan terlalu murah dan jangan pula terlalu mahal. Karena kasihan juga pengusaha batu bara, mereka baru saja bisa bernafas, soalnya cukup lama harga batu bara anjlok dan banyak perusahaan gulung tikar," katanya.

Sementara itu para pengusaha batu bara yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) mengaku tak keberatan harga batu bara untuk PLN diatur asalkan menjamin kepastian investasi jangka panjang. Namun APBI tak mau pengaturan hanya dilakukan saat harga batu bara sedang melambung tinggi, lalu diserahkan ke mekanisme pasar ketika harga sedang anjlok. Baik PLN maupun pengusaha harus sama-sama menanggung risiko kalau harga batu bara diatur. Ketika harga batu bara sedang jatuh ke titik yang lebih rendah dari hasil pengaturan, PLN harus menanggungnya dan jangan minta harga kembali ke mekanisme pasar.

Begitu juga sebaliknya, saat harga batu bara melambung tinggi maka pengusaha tetap menerima pembayaran sesuai pengaturan. Dengan pengaturan, PLN terhindar dari tambahan beban saat harga melonjak dan pengusaha terhindar dari kerugian besar saat harga jatuh.

"Harus lihat jangka panjang. Boleh cost plus margin (pengaturan harga berdasarkan biaya produksi ditambah margin keuntungan), tapi long term aja. Jadi kita bikin win-win aja, jangan mikir sekejap. Jadi pas harga naik, PLN untung. Pas turun, perusahaan batu bara enggak rugi banget," kata Ketua Umum APBI, Pandu Sjahrir, dalam diskusi di Jakarta, Selasa (6/2/2018).

Bila PLN tak mau menyepakati harga khusus untuk jangka panjang, menurut Pandu, sebaiknya mengikuti Harga Batubara Acuan (HBA) yang ditetapkan pemerintah setiap bulan. Toh, HBA itu sudah lebih murah USD 6-7 per metrik ton dibanding harga pasar.(plt)