logo

Wakil Rakyat Micro Site

Rabu, 19 Desember 2018 | Edisi : Indonesia

Setop Spekulasi, Polisi Harus Ungkap Motif dan Aktor Penyerangan Ulama

Jumat, 23 Peb 2018 - 11:21:33 WIB
Mandra Pradipta, TEROPONGSENAYAN
3jazuli-juwaini-mandor.jpg
Sumber foto : Mandra Pradipta/TeropongSenayan
Mandra Pradipta

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Saat ini mulai muncul berbagai spekulasi soal kasus penyerangan ulama. Ada yang menyatakan dilakukan orang kuat untuk tujuan politik dan Pilpres. Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini meminta masyarakat terlebih tokoh politik untuk tidak membuat analisa yang memperkeruh keadaan.

Jazuli pun meminta aparat kepolisian segera mengungkap motif dan aktor intelektual kasus yang sudah meresahkan masyarakat luas ini.

“Jujur masyarakat bertanya-tanya seputar kasus ini. Pertama, kenapa marak penyerangan terhadap ulama dan simbol-simbol agama sekarang ini. Kedua, lebih aneh lagi kenapa pelakunya diduga orang gila, dari 21 kasus 15 diantaranya teridentifikasi pelakunya (diduga) orang gila. Masak orang gila bisa memilih sasaran penyerangan. Ini benar orang gila atau pura-pura gila atau orang gila yang dimanfaatkan?,” tanya Jazuli dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/2/2018).

Ketiga, lanjut Jazuli, polisi terkesan lambat melakukan penyelidikan dan pengungkapan kasus ini.

"Sudah 21 kasus, masak belum clear juga motif dan pelakunya termasuk jaringannya. Sementara, untuk satu kasus penyerangan Gereja Santa Lidwina di Sleman polisi langsung bisa identifikasi dan menyatakan pelakunya terpengaruh paham radikal (teroris). Memang orang-orang gila yang menyerang ulama dan pesantren ini tidak bisa diidentifikasi asal-usulnya?," sesal Jazuli.

Keempat, sebut Jazuli, mulai muncul analisa di luar aparat, yang katanya berdasarkan hasil investigasi mereka. Antara lain konon aksi ini digerakkan kelompok yang pernah berkuasa untuk tujuan Pilpres.

"Ini jelas membuat masyarakat tambah bingung," terangnya.

Presiden, kata legislator dari Dapil Banten ini, harus mendorong kepolisian untuk segera menuntaskan kasus-kasus ini karena hal ini berpotensi mengganggu stabilitas keamanan nasional.

"Polisi pasti mampu mengungkap kasus ini berkaca dari sigap dan cepatnya mereka mengungkap kasus-kasus terorisme yang notabene lebih complicated aktor dan jaringannya.  Pun, kasus-kasus penyerangan ulama ini sejatinya juga bisa dikategorikan teror karena meresahkan dan menciptakan kondisi ketakutan, tidak aman, dan chaos di tengah-tengah masyarakat. Polisi harusnya bertindak layaknya menangani kasus-kasus teroris dalam kecepatan pengungkapan motif, aktor, dan jaringan pelakunya. Jangan biarkan masyarakat berspekulasi dan termakan spekulasi orang atau kelompok tertentu," tutup dia.(yn)