logo

Wakil Rakyat Micro Site

Selasa, 16 Juli 2019 | Edisi : Indonesia
Aspirasi

Tiga Cara Hentikan Pembantaian Rohingya Versi Nasir Djamil

Senin, 04 Sep 2017 - 11:31:57 WIB
Mandra Pradipta, TEROPONGSENAYAN
83NasirDjamil-tscom2.jpg
Sumber foto : Dok/TeropongSenayan
Nasir Djamil

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Anggota Komisi III DPR Nasir Djamil mengutuk keras kejahatan kemanusiaan yang dilakukan militer Myanmar di Rakhine State. Mereka membunuh muslim Rohingya yang menetap di daerah tersebut.

Nasir pun menyerukan tiga langkah kongkret yang harus dilakukan pemerintah Indonesia, guna mengakhiri kejahatan HAM berat di Myanmar.

"Pertama, pemerintah dapat melakukan upaya diplomatik dengan mengultimatum Kedutaan Besar Myanmar di Indonesia agar pemerintahan Myanmar menghentikan pembantaian," kata Nasir di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (4/8/2017).

Apabila ultimatum tidak diindahkan, lanjut Nasir, maka Duta Besar Myanmar harus diusir dari Indonesia sebagai bentuk protes keras. Termasuk juga memanggil Duta Besar Indonesia untuk Myanmar.

Kedua, lanjut Politisi PKS ini, pemerintah  diminta mendorong PBB maupun ASEAN untuk membentuk tim khusus untuk melakukan pencarian fakta sekaligus menjadi penjaga kedamaian dan melindungi kelompok minoritas muslim di Rohingya.

"Apalagi, telah ada kelompok Militan Tentara Penyelemat Rohingya Arakan (ARSA) yang melakukan perlawanan ke militer Myanmar, sehingga jika dibiarkan berkonflik, maka akan semakin membuat rumit konflik di Rohingya, sementara warga muslim biasa hanya akan menjadi korban," terangnya.

Ketiga, pemerintah dapat mendorong komunitas internasional khususnya ASEAN untuk mengembargo Myanmar baik secara diplomatik maupun ekonomi. Embargo tersebut lazim diterapkan untuk menekan negara yang melakukan kejahatan kemanusiaan.

Selain itu, politisi PKS tersebut juga mendorong agar lembaga pemberi Nobel di Oslo Norwegia, mengevaluasi kembali bahkan mencabut pemberian hadiah Nobel perdamaian kepada tokoh Myanmar, Aung San Suu Kyi yang diam saja atas pelanggaran HAM di Rohingya.

"Diamnya Aung San Suu Kyi dinilai sebagai  bentuk persetujuannya atas pembantaian di Rohingya," tutupnya.(yn)