logo

Wakil Rakyat Micro Site

Minggu, 21 Oktober 2018 | Edisi : Indonesia

Nasir Djamil Jadi Inspektur Upacara HUT RI di Bukit Langit

Sabtu, 18 Agu 2018 - 10:22:04 WIB
Bara Ilyasa, TEROPONGSENAYAN
87Nasir-Djamil-Upacara.jpg.jpg
Sumber foto : Bara Ilyasa/TeropongSenayan
Anggota Komisi III DPR Muhammad Nasir Djamil menjadi Inspektur Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-73 di pengibaran Bendera Raksasa di bukit Gantung Langit, Burni Bius, Silih Nara, Aceh Tengah, Jumat (17/8/2018)

ACEH (TEROPONGSENAYAN)--Anggota Komisi III DPR Muhammad Nasir Djamil menjadi Inspektur Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-73 di pengibaran Bendera Raksasa di bukit Gantung Langit, Burni Bius, Silih Nara, Aceh Tengah, Jumat (17/8/2018).

"Tempat ini memiliki sejarah, ada nama besar Syafruddin Prawiranegara yang menjadikan tempat ini sebagai daerah perjuangan untuk melawan takluk terhadap Belanda. Untuk itu, kita disini sama-sama menyambung emosi kita dengan seluruh rakyat Indonesia bahwa hari ini 17 Agustus kita merayakan ultah kemerdekaan ke- 73," ujarnya dalam upacara tersebut.

Hadir dalam acara itu, Anggota Pembela Tanah Air (PETA),  sejumlah kepala desa dan anak-anak muda yang berada di sekitar Bukit Langit.

Lanjut tokoh muda Aceh ini, kemerdekaan Republik Indonesia bukanlah pemberian ataupun hadiah Belanda dan Jepang. Tapi, merupakan perjuangan segala lapisan, golongan, semua agama di Indonesia.

"Dikalangan umat islam, para ulama dan pesantren juga menyerukan semangat nasionalisme untuk membebaskan diri dari penjajahan  Belanda dan Jepang," terangnya.

Kata dia, rakyat Indonesia tidak boleh melupakan apa yang telah dilakukan pendiri bangsa ini yang memiliki cita-cita besar untuk memerdekakan bangsa ini.

"Karena itu sebagai sebuah bangsa, kita harus memiliki sidik jari keindonesiaan. Jadi, kalau kita sebagai bangsa Indonesia, sidik jari jari kita sidik jari keindonesiaan, hati kita hati Indonesia, pikiran kita pikiran Indonesia," ucapnya.

Lebih jauh, politisi yang sudah terpilih tiga kali menjadi Anggota DPR ini, meminta anak milenial untuk terus memupuk rasa nasionalisme. Nasionalisme yang yang luas bukan nasionalisme yang sempit. Nasionalisme yang subtantif disamping nasionalisme simbolik. 

"Kita harus menggabungkan nasionalisme subtantif dan simbolik, kita tidak mau kemudian nasionalisme kita sombolik saja sehingga kemudian bendera merah putih kita kibarkan tapi kemudian kita membiarkan sumber daya alam kita dikuras oleh asing, kita membiarkan sektor -sektor ekonomi perbankan dan industri kita dikuasai asing, kita membiarkan keputusan-keputusan penting didikte oleh asing," tegasnya.

"Karena itu nasionalisme yang  ingin kita bangun adalah nasionalisme yang simbolik dan juga nasionalisme Subtantif. Inilah yang kita harapkan agar Indonesia yang makmur  dan sejahtera bisa terwujud," pungkasnya.

Seperti diketahui, Burni Bius merupakan tempat persembunyian Syafruddin Prawiranegara dari kejaran Belanda. 

Dari tempat itu, Syafruddin terus menyuarakan Indonesia merdeka dan tak pernah takluk pada Belanda dengan alat.

Di tempat yang tak jauh dari Burni Bius yaitu daerah Jamur Barat, Syafruddin membuat bunker untuk menghindari serangan udara Belanda. Dan hingga saat ini, bunker tersebut masih ada.

Syafruddin sendiri disebut berperan penting saat Indonesia dimasa darurat, dimana pada tanggal 19 Desember 1948, Soekarno-Hatta ditangkap Belanda.

Hasil musyawarah sejumlah tokoh pimpinan republik di Sumatera Barat saat itu, akhirnya Syarifuddin diangkat sebagai Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).(yn)