logo

Wakil Rakyat Micro Site

Kamis, 18 Januari 2018 | Edisi : Indonesia
Opini

Di Depan Akademisi, Romi Paparkan Sembilan Megatren Politik Nasional

Sabtu, 16 Sep 2017 - 06:35:34 WIB
Sahlan Ake, TEROPONGSENAYAN
47romahurmuziy1.jpg
Sumber foto : Sahlan Ake - TeropongSenayan
Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy

YOGYAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy (Romi) memaparkan sembilan megatren politik nasional di depan puluhan akademisi. Paparan yang diikuti oleh akademisi dari 20 universitas se-Indonesia itu berlangsung di depan sidang Konsolidasi Keilmuan Pascasarjana, di UGM, Yogyakarta, Jumat (15/9/2017).

Megatren pertama, kata Romi, yakni menguatnya konservatisme yang ditandai dengan terpilihnya Donald Trump, keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), dan aksi demo 212 yang berlanjut pada penghadap-hadapan pemerintah dengan kepentingan umat Islam.

Kedua, partisipasi politik semakin turun, yang ditandai terus menurunnya partisipasi pemilih dalam pemilu dari 92,7% (1999) menjadi 75,11% (2014).

Ketiga, demokrasi prosedural yang semakin terkonsolidasi, ditandai semakin berkurangnya jumlah parpol penghuni parlemen hasil pemilu. Dari 20 parpol pada Pemilu 1999 menjadi 10 parpol (2014).

Keempat, terjadinya diferensiasi dan konsolidasi politik pada masa mendatang.

"Bisa saja pengelompokannya semakin sosiologis, saya singkat 4M. Yakni Partai Muslim yang terdiri atas PPP, PKB, PAN, PKS, PBB. Lalu Marhaen, dengan PDIP. Selanjutnya kekuatan modal yaitu PG, Nasdem, dan Hanura. (Terakhir) militer yang hari ini adalah PD, Gerindra, dan PKPI," papar Romi.

Megatren kelima adalah kecenderungan pertarungan politik yang semakin pragmatis. Money politics semakin menentukan kemenangan pertarungan politik.

"Akibatnya, megatren keenam adalah terjadinya korupsi politik yang semakin massif," ujar Romi.

Megatren ketujuh adalah politik yang semakin berbasis citra diri dan propaganda, bukan gagasan atau kerja nyata.

"Kedelapan, dengan semakin politik berbasis citra dan berbiaya tinggi sesuai tingkatannya, maka semakin banyak lahir pemimpin dadakan yang tidak meniti karir politik dari bawah, atau pemimpin yang meniti karir secara non-partisan," tegas anggota Komisi Keuangan DPR ini.

"Akibat semua itu maka lahirlah megatren kesembilan. Yakni loyalitas politik semakin dominan kepada pribadi pemimpin, bukan institusi partai. Yang terjadi adalah personalisasi sekaligus de-institusionalisasi kepemimpinan. Lihat saja hasil exit poll Pemilu 2014, contrengan kepada caleg lebih tinggi dibanding contrengan partai," papar Romi. (plt)