logo

Wakil Rakyat Micro Site

Selasa, 23 Oktober 2018 | Edisi : Indonesia

Demokrasi Indonesia Dinilai Mengkhawatirkan, Begini Paparan Romy

Rabu, 25 Apr 2018 - 21:26:05 WIB
Mandra Pradipta, TEROPONGSENAYAN
45Romy-Indemo-Mandra.jpg.jpg
Sumber foto : Mandra Pradipta/TeropongSenayan
M Romahurmuziy (kanan) usai menjadi pembicara dalam diskusi yang digelar Indonesia Democracy Monitor (Indemo) bertajuk "Partai Politik dan Pilkada Serentak Meningkatkan Kualitas Demokrasi Melalui Politik Elektoral" di Jalan Lautze 62 C, Jakarta Pusat, Rabu (25/4/2018)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy alias Romy menilai, demokrasi di Indonesia sudah memasuki zona mengkhawatirkan.

Hal itu disampaikan Romy dalam diskusi Reboan yang digelar Indonesia Democracy Monitor (Indemo) bertajuk 'Partai Politik dan Pilkada Serentak Meningkatkan Kualitas Demokrasi Melalui Politik Elektoral' di Jalan Lautze 62 C, Jakarta Pusat, Rabu (25/4/2018).

"Indonesia negara kedua tertinggi money politic setelah Uganda," beber Romy.

Maka tak heran, lanjut Romy, bila saat ini cenderung generasi milenial apatis dengan Pilkada dan Pilpres, lantaran politik uang masih merajalela.

Sebab, generasi milenial saat ini sudah memahami bahwa politik uang telah melahirkan pemimpin yang koruptif.

"Ini akibat tingginya biaya demokrasi. Pilkada langsung banyak yang terlibat persoalan hukum. Itu karena salah sistemnya," tuturnya.

Ditempat yang sama, Direktur Indemo Hariman Siregar menyatakan, demokrasi di Indonesia sudah dibajak oleh uang. Jadi tak heran, bila banyak partai politik jarang fokus pada perubahan bangsa.

"Demokrasi dibajak oleh uang, untuk itu sangat sukar mencari pemimpin yang bisa mengatasi keadaan. Betapa jahatnya uang ini," ujar Hariman.

Aktivis Malari ini pun meminta, siapapun presiden yang terpilih pada Pilpres 2019 mendatang tidak boleh memainkan hukum seenaknya untuk menindas.

"Yang menang bukan untuk menekan yang lain," pungkasnya.(yn)